Serious people die fast

Quick Review on Barber Bros (@BBrosKemang)

It is a known fact that now people, probably for these last 2 years, is paying a justified amount of attention to their haircut. Well, they should be. In case you didn’t notice, which make you a quite ignorant person, there are lots, i mean, kit-kat-green-teas-calories lots, of new barbershops around town. One of ‘em is Barber Bros.

image

I happened to accompanied my 2  friends for a haircut around 2 weeks ago to Barber Bros. Located in Jl. Kemang Selatan 8 no 64. Jakarta, the place is quite nice. Air conditioner, flat tv, free mineral water, you name it. The haircut itself, is pretty satisfying. Both of my friends, went for an undercut (which seems to be the haircut of the year, thanks to Lawless) and it looks quite good. The barber is so careful and very gentle in a non-homophobic way and the massage is goooood (typo is on purpose, just to make sure you get how good the massage is) . The tools? Typical to others hype barbershops around your corner; massage cream, hot towels, etc. The good thing is they also let you try Suavecito (google it up) to pomp your hair up for free. The price for a haircut is 40.000 IDR, but if I’m not mistaken, the first 200 customers will get a 15.000 IDR cut. Do the math and it will only cost you 25.000 IDR.

image

Price: 4/5

Haircut: 3/5 (They’re nice, but I didn’t get a haircut myself, so 4 is pushing it)

Location: 4/5 (It’s in Kemang for foke’s sakes)

Extras: 3,5/5 (Free mineral water is okay, but I prefer something cold. The free Suavecito is good tho, so I’m stuck between 3 and 4)

Oh, they could also use the guarantee thing. You know, free haircut for 3 days after your haircut or things like that. Some people have unreasonable concern for their haircut, I guess.

Pitch Perfect : Re-defining guilty pleasure

image

“Sesungguhnya tiada hal positif ketika kata ‘berlebihan’ turut serta dalam kehidupan. Apalagi terkait buang air.”

-Jeremiah Arthur Jenkins (1947-2011)

Kalimat tersebut seolah seperti quotes rekayasa penuh kebijakan palsu kebanyakan seperti yang sering terlihat di 9gag pada medio september tahun lalu. Namun, Jeremiah Arthur Jenkins, seperti biasanya, benar.  Penulis, seperti yang diketahui oleh seluruh dunia dan/atau follower twitternya, membenci film bergenre musikal. Kecuali Corpse Bride. Membenci secara berlebihan, mungkin. Fakta tersebut kemudian menjadi sebuah tamparan besar tatkala penulis berhadapan dengan sebuah drama komedi musikal berjudul Pitch Perfect.

Dibintangi oleh Anna Kendrick dan Skyler Astin, film dengan durasi hampir 2 jam ini berhasil mengantarkan Anna Kendrick ke peringkat 2 dalam jajaran Aktris yang Patut Dinikahi, setelah Carey Mulligan tentunya. Berlatar belakang persaingan grup A Capella di lingkungan kampus, sejatinya film ini merupakan komedi standar tanpa sesuatu yang spesial. Sejujurnya, film ini merupakan tipikal drama-komedi-remaja-wanita-yang-memberikan-sedikit-prasangka-gay-ke-penonton-pria pada umumnya. Teori tersebut berlandaskan dari elemen-elemen yang dihadirkan dalam Pitch Perfect; cute white guy, exotic asian, hot afro guy, white trash bitches, you name it.

Pada akhirnya, faktor Anna Kendrick menyanyikan Titanium milik David Guetta dalam kondisi tanpa busana dan soundtrack film legendaris The Breakfast Club, Don’t You (Forget About Me) dari Simple Minds, menjadi alasan utama penulisan ulang definisi guitly pleasure dalam movie-dictionary milik penulis. Lelucon yang kerap dikeluarkan oleh 2 tokoh pembantu, John Michael Higgins dan Elizabeth Banks juga patut mendapat apresiasi bagi anda yang gemar menyimak lelucon khas komentator. Inti dari tulisan ini adalah; jangan membenci sesuatu secara berlebihan dan rating 7.2 dari IMDB tidak lah berlebihan. Selamat lembur bagi teman-teman dengan profesi yang sama.

99 PERILAKU SALAH MASYARAKAT (PENUTUP)

Berkaca pada sebuah kalimat seorang kolega, “Tiada gading yang tak retak, hujan yang tak reda, dan pasangan yang tak putus.” sampai juga lah kita pada bagian dimana 99 Perilaku Salah Masyarakat berakhir. Penulis tidak akan meminta maaf akan lambatnya update tulisan ini seperti layaknya blogger kacangan yang berperilaku seolah memiliki pembaca. Penulis juga tidak akan meminta maaf akan lambatnya progress kehidupan asmara karena hal itu tidak relevan untuk dibahas disini.

Motivasi utama dibuatnya artikel ini adalah untuk mencerdaskan masyarakat luas dan mencapai taraf hidup yang lebih baik demi kemaslahatan orang banyak. Bercanda. Murni iseng karena tidak ada kerjaan. Semoga kita semua dapat mengambil sisi positif dari adanya tulisan ini serta berperilaku lebih baik lagi ke depannya. Penulis tidak akan melayani pertanyaan tentang jumlah perilaku yang hanya 98 dengan asumsi pembaca tulisan ini cukup pintar untuk mengetahui alasan dibalik fakta tersebut.

Sampai jumpa di kesempatan lainnya dan berhenti lah mengikuti kegiatan tidak berguna seperti seminar bisnis properti tanpa modal atau berselisih di internet. 

99 PERILAKU SALAH MASYARAKAT (PART TERAKHIR)

73.       Berlagak seolah die hard fans tanpa pengetahuan mumpuni

Berhenti lah memakai kaos Oasis ketika Wonderwall adalah satu-satunya lagu mereka yang anda tau. Atau ketika anda tidak bisa membedakan Liam dan Noel. Dan berhentilah menjadi fans Tottenham. Apapun alasannya.

Anda dimaafkan bila:

·         Tidak dimaafkan

·         Oke baiklah

·         Tetap tidak dimaafkan

74.       Mencoba mencari loop hole di tulisan ini

Tidak kah kalian punya kegiatan lain yang lebih penting? Bukan, bukan diskusi kebijakan moneter terkini. Mengulang seri Godfather, misalnya.

Anda dimaafkan bila:

·         Pengacara

·         Bekerja di bidang perpajakan

·         Auditor

·         Komentator sepakbola

75.       Mempertanyakan tingkat kelucuan artikel 99 perilaku salah masyarakat

Sedari awal memang tidak ada yang menyatakan artikel ini merupakan tulisan bergenre komedi. Apakah anda tertawa ketika menonton Insidious? Atau bahagia ketika menonton musikal selain Corpse Bride? Duh.

Anda dimaafkan bila:

·         Cacat sedari lahir yang menyebabkan ketidak mampuan memberikan respon emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada

76.       Tertawa ketika menonton Insidious

Atau seri Exorcist. Penulis mulai kehabisan ide. Dan dikejar deadline.

Anda dimaafkan bila:

·         Ada baiknya kita saling memaafkan kali ini

77.       Bahagia menonton musikal selain Corpse Bride

Oke oke ini percobaan terakhir. Mohon maaf. Tapi serius, musikal? Ayolah. Genre ini sama buruknya dengan dokumenter.

Anda dimaafkan bila:

·         Hugh Jackman

·         Neil Patrick Harris

·         Helena Bonham Carter

78.       Mempromosikan contact bbm

Frase macam “Add 2262A875 anaknya baik tampan rupawan…” merupakan pencederaan akal sehat manusia

Anda dimaafkan bila:

·         Bekerja di bidang human trafficking

·         Bekerja di kementrian sumber daya manusia

79.       Tidak mengedepankan Aqua dalam industri air minum kemasan

Memilih Club atau Cleo adalah bukti bahwa anda memiliki intelegensia setara fans Tottenham yang kerap memiliki preferensi abnormal hanya demi status anti-mainstream

Anda dimaafkan bila:

·         Pemegang saham perusahaan air minum kemasan lain

·         Keluarga dari pemegang saham perusahaan air minum kemasan lain

80.       Membaca buku motivasi

Karena sesungguhnya membaca komposisi bahan Malkist Abon jauh lebih menarik dan bermanfaat

Anda dimaafkan bila:

·         Anggota organisasi politik di lingkungan kampus

·         Maaf, itu hanya membuat anda semakin tidak dimaafkan

81.       Menulis buku motivasi

Hal ini merupakan bentuk evolusi dari kesalahan nomer 80 sebagaimana Raichu merupakan evolusi dari Pikachu, Greymon dari Agumon, maupun Gervinho dari Okto Maniani

Anda dimaafkan bila:

·         Bentuk mata pencaharian satu-satunya

·         Mario Teguh

·         Morgan Freeman

82.       Tidak mengedepankan Indomie di industri mie instan

Baca nomer 79, copy, lalu paste

Anda dimaafkan bila:

·         Baca nomer 79, copy, lalu paste

83.       Menuntut penulis secara berlebihan untuk mengupdate artikel ini

Tidak kah kalian tau bahwa penulis artikel ini punya hal penting lain di hidupnya selain monolog tanpa tujuan ini? Sama, penulis juga tidak

Anda dimaafkan bila:

·         Yasudah lah

84.       Membiarkan daftar lagu di iTunes berantakan

Sama saja dengan bermata tapi tak melihat, berkuping tapi tak mendengar, dan berpakaian tapi tak berkaca

Anda dimaafkan bila:

·         Kemampuan intelegensia rendah

·         Pengguna Winamp garis keras

85.       Percaya akan keberadaan follower di akun slideshare

Mungkin anda berada dalam tahap pada hidup dimana semua hal terasa begitu nyata. Leprechaun, Sinterklas, Global Warming, atau bahkan Ujian Akhir Semester. Pfft.

Anda dimaafkan bila:

·         Secara faktual memiliki akun slideshare

·         HAHAHAHA. Untuk apa?

86.       Tidak dapat membedakan Meat Lover dan American Favourite

Rasis. Tidak semua orang Amerika itu obesitas seperti halnya tidak semua orang Rusia itu pemabuk atau sebagaimana halnya orang negro itu tidak setara

Anda dimaafkan bila:

·         Oke oke lelucon rasis ini terlalu jauh

·         Mohon maaf

87.       Sengaja tidak membaca bbm masuk

Sungguh kejam. Tidak kah kalian sadar setiap orang mempunyai tingkat insekuritas yang berbeda-beda? Tidak, penulis tidak mempunyai ketergantungan akan pesan bbm yang sengaja tidak dibaca

Anda dimaafkan bila:

·         Rupawan

·         Cantik

·         Sedap dipandang mata

·         Kalian mengerti intinya, bukan?

88.       Memakai frase “Ciyus? Miapah?” tanpa niatan bercanda

Tidak kah kalian menghargai pengorbanan para pejuang kemerdakaan barang sedikit pun?

Anda dimaafkan bila;

·         Cacat mental

·         Cacat fisik

89.       Lebih memilih Liam daripada Noel

Sesungguhnya anda memiliki skala prioritas yang aneh

Anda dimaafkan bila:

·         Lebih memilih Oasis

90.       Tidak menangkap kode “Temenin gue nyari kado yuk” atau sejenisnya

Kalimat diatas merupakan kode universal yang mempunyai satu dan hanya satu makna tersirat.

Anda dimaafkan bila:

·         Bekerja di toko souvenir

91.       Karaoke sendirian

Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada ini kecuali scene I Am Sam dimana… Semua scene di I Am Sam menyedihkan

Anda dimaafkan bila:

·         Penulis merasa iba

92.       Menggunakan kalimat “Happy x months anniversary” di depan publik

Pernahkah anda melihat penghargaan Karyawan Terbaik Tahun ini untuk bulan Agustus selain di Spongebob? Beberapa orang memang tertinggal, termasuk anda

Anda dimaafkan bila:

·         Tidak memiliki pengetahuan mumpuni dalam berbahasa inggris

93.       Makan sendirian di tempat umum

Tidak kah kalian membaca nomor 91 atau menonton serial FRIENDS?

Anda dimaafkan bila:

·         Menolak menonton Friends karena merupakan fans HIMYM garis keras

94.       Memakai Crocs

Masih banyak cara lain untuk terlihat tidak atraktif bagi lawan jenis

Anda dimaafkan bila:

·         Teman dekat penulis

95.       Merokok di ruangan ber-AC

Penulis terjebak diantara 2 pilihan: Tidak punya otak atau tidak punya etika

Anda dimaafkan bila:

·         Berpenghasilan diatas 80 juta sebulan

·         Rokok elektrik

·         Hahahaha. Korban pembodohan

96.       Menjawab pertanyaan “Dimana?” dengan “Udah deket”

Perilaku seperti ini lah yang merupakan definisi dari douchebag seperti halnya menulis LOL di percakapan digital atau mendengarkan Tonight I’m Loving You milik Enrique Iglesias

Anda dimaafkan bila:

·         Konten ini tidak tersedia

97.       Menikmati tayangan televisi lokal pada saat sahur

Selera orang boleh saja berbeda-beda selama masih dalam koridor yang tepat. Hal ini tidak termasuk dalam definisi koridor yang tepat

Anda dimaafkan bila:

·         Pertandingan Sepak Bola

·         Menonton kerabat dekat

98.       Menulis artikel tentang 99 daftar perilaku yang salah

Sok paling benar.

Anda dimaafkan bila:

·         Noel Gallagher

·         Sholahuddin Alrahmani

·         Kerabat dekat kedua tokoh diatas

Review on @zevinshoes Anniv II x @VOYEJ : Albatross

So I happened to have the opportunity to own one of the limited 100 pairs of ZEVIN Anniversary II Series x VOYEJ. Here’s my review bout the shoes so called “Albatross”. This review is 100% subjective, I mean, it’s not a scientific research. So, save the groupies-kinda-thing comment, I am a groupie, of Arsenal. 

The Packaging

The shoes came to me in a solid brown box. Kalo dilihat dari value the shoes within the box, I’d say an appropriate packaging. Since we’re here to talk about the shoes, let’s just moving on. Oh, the writing inside the box is a good thing, tho.

The Last

If Will McAvoy is one of the leg guys when it comes to girls, I’m a Last guy when it comes to shoes. Dan emang kayaknya ketika ngomongin sepatu, it’s all about the last lah ya. Judging from its Last; definitely a dress. The toe is in the appropriate length to be a cap-toe, toe box is narrow, which is a beauty. It’s safe to say that this is one of the most beautiful lasts in local brands. I have a wingtip derby which its last isn’t half as hot as this one. That says a lot. Basically, the Last is great tho it’s not the Last of my dreams. That one still belongs to Viberg’s 1950 service boots. And Albatross could use a lil bit curve on the heel cap part.

The Details

Gotta love the cap-toe. Not to mention the brogues. The logos on the tongues and the insole are easy on the eye too.

The Specification

Albatross came with 5 eyelets and 2 hooks. The upper’s full grain pull up 2.0-2.2mm cowhide and VOYEJ’s american russet leather. Kulit dari VOYEJ is on the quarter. My knowledge in leather is just as much as in women which is not good enough. But judging from the texture and the looks, and not to mention the tone, I’m sold. Konstruksi dari Albatross menggunakan Goodyear Welt dan double leather sole with half commando rubber pad. The rubber pad kinda make this shoess became what we know as semi-dress.

The Fit Pic

Things That Didn’t Work Out For Me

Before you read any further, need to remind you that this is all personal. It comes from my point of view, so, screw yours. Just kidding. No offense. The contrast stitching on the welt isn’t one of my likings. Although it might be too soon to talk about comfortability since I’ve only worn it for a day, I still have to point out that the shoes isn’t exactly friendly with my feet. Faktor leather sole yang kaku ditambah kulit upper yang tebal plus last dress shoes yang narrow ditengarai menjadi alasan kurang nyamannya Albatross. But still, it’s a boot. People shouldn’t expect them to be as comfortable as sneakers. Then again, an improvement on the footbed wouldn’t kill, right? But I guess the comfortability will get better in time. We human tend to adapt on things. Oh, and a pull loop might come in handy for me.

The Conclusion

You guys might be able to draw the conclusion, right? No? Okay. In my opinion, Albatross is a job well done from ZEVIN and VOYEJ. Memang ada beberapa hal yang tidak begitu sesuai dengan selera penulis, but those things are minor. The beautiful last overcomes. In a simple word; cop one.

BASIC GUIDANCE TO SUIT YOURSELF UP

Berangkat dari sebuah quotes dari Jeremiah Arthur Jenkins, “Man’s only as good looking as his best suit”, dengan ini penulis akan memberikan beberapa tips dasar dan hal-hal fundamental dalam memilih suit, atau setelan, menurut google translate.

The most important thing about suits is the fit. Hal paling esensial dalam semua pakaian memang pada dasarnya adalah fit. If the suits don’t fit, don’t wear it, unless someone’s twisting your arm. Beranjak dari fakta tersebut; get a tailor-made suit. Those suits on the stores won’t fit you perfectly karena pada dasarnya, tiap orang punya body problem masing-masing. Selama anda mampu untuk membeli tailor-made suit, make sure you cop one.

Basically, it takes around 4-6 weeks in order to get your tailor-made suits. So, watch the timeline. You don’t want the tailor works in a hurry. Cause in suits, small details matter. These are few things you might wanna consider when you’re on your way to get your suits.

1. The Cuts

First thing first; choose the cuts. Remember when I told you “fit comes first”? The cuts define the fits, the fits define the personalities within. Secara umum, ada 2 main cuts yang dianut; Single Breasted and Double Breasted. The picture will do the explanation.

 

The Double Breasted will give you the wise-man look. I personally think that skinny guys should never bother trying to pull a Double Breasted. Unless you’re Christian Bale. Though he’s not skinny. Well, you got my point.

2. The Pieces

So you’re done with the cuts, time to deal with the pieces. Is it a two-piece or a three-piece? No one-piece thing, we’re not talking about swimsuits or Eichiro Oda. Three-piece adds a waistcoat/vest. Not to mention the swag. Husband material approved. I suggest to go home with a three-piece instead of two.

3. The Anatomy

Small details matter. I wrote that up there didn’t I? So once you’ve decided the basic two things above, it’s time to put some attention to the details.

a.       Lapels

As you can see in the pictures, there are 3 kinds of lapels; Notched, Peaked, and Shawls. Notched biasanya dipakai di suits untuk casual occasions. Daily use kinda thing suits. You know what I’m talking about. Peaked, lapelnya pointy keatas, identik dengan suits untuk formal occasions while shawls, not ponity but curvy instead, are typically met in formal dinner suits. So basically, kalo diurutkan terkait dengan pemakaiaannya mulai dari casual ke formal, the order is Notched-Peaked-Shawls. Know your occasions, know your lapels. Single breasted suits biasanya ada buttonhole di lapel kiri for bouttonniere. Use it only for a formal events tho.

b.      Buttons

Moving on to buttons. Double breasted has 6 buttons. Let’s not change the playbook there. Single-breasted? 3 buttons, 2 buttons, suit yourself. Mau 3 buttons or 2, po-tay-to po-tah-to. The thing is, always unbuttoned your last. That’s the etiquette. Personally, I’d go with 2. Oh, and you should unbuttoned your suits while sitting down. It’s not obligatory tho. And basically, di sleeve ada 3-4 buttons. Buttons di sleeves kalo kata wikipedia sih purely decorative. Jadi bebas aja. I, myself, will go with 3 due to my commitment to simplicity.

c.       Vents

Oke lanjut ke Vents. Vents itu ada di bagian belakang suits. 3 types of vents: Ventless, single, or double. Sejarahnya sih dulu vents ini dibuat supaya suits gampang dipake pas naik sepeda. Ventless suits usually associated with Italian tailoring while on the other hand the double-vented represent her majesty. Vent comes in handy so I suggest you to at least have one.

4. The Fit Measurement

This is basically the most important thing here. I kinda stretch out the use of word basically in this article, aren’t I? These are the things you should grind your tailor over with

a.       Shoulder

Make sure the suits fall in the right place on your shoulder. Kalo shoulder nya udah bener, most of the fit will come through. Asumsi penjahitnya bener ya applying the right cut, whether it’s regular, relaxed, or slim.

b.      Chest

Not too tight, and not too loose. It’s actually pretty simple. Measure your chest, naked, and allow approximately 2 inches for your suit.

c.       Vertical Length

The suit’s length? Rule of thumb. The suits should end at your thumb. Jadi kalo berdiri dengan tangan ke bawah, bagian bawah sejajar sama jempol.

d.      Sleeve’s Length

The important thing some people ignored. It’s easy to alter, but some people just wanna watch the world burned or don’t want the suit fits. The suit’s sleeves should be 0.4-0.5 inches shorter than the shirt’s sleeves. I mean, how hard is that, people?

e.      Trouser’s Length

Yup, the inseam. The rule is one break and one break only. Pretty good video to explain this one: http://www.youtube.com/watch?v=p9mh5Di6e1E

The important thing to note when you’re measuring your inseam: wear the effing shoes. I mean, you’re not gonna walk around barefooted in your suits, right?

Dengan asumsi penjahit anda berpengalaman menangani well-crafted suits, you could get at least 3 chances for fitting. Waktu di awal pengerjaan, pas setengah jadi, dan saat finishing. Make the best out of the chances. Jangan ragu buat ngomong ke tailor nya if you have anything to say about your suit. Cause it’s not only your suit that’s on the edge here, it’s your image.

5. The Fabric

Moving on to Fabric. Wool, Silk, Linen, are oftenly used for formal or non-formal events while tweed is only used by people who don’t wanna get laid. In every occasion. I mean, it’s tweed. Buat formal, go with black or grey. The fabric for the jacket should be the same with the fabric for the trouser. Talking about patterns, the pinstripe suits aren’t meant to be used by skinny tall guys. So plain is the best card on the deck. For me. And some of you guys.

So I guess that’s about it. If you can’t look good in your best suits, sue your tailor. That is, assuming your suit is tailor made.

Film dan Soundtrack

Banyak penulis terutama di dunia maya mengawali tulisannya dengan ucapan permohonan maaf akibat menurunnya frekuensi menulis mereka. Mengacu ke tulisan saya sendiri, yaitu 99 Perilaku Salah Masyarakat yang sepertinya mendapat respons hangat cenderung panas dari para pembaca, kegiatan tersebut merupakan salah satu perilaku salah masyarakat yang terdaftar di nomor 69. Tidak ada unsur kesengajaan dalam penomoran, murni kebetulan yang tidak penting dan tidak seharusnya kita bahas di sini. Berangkat dari situ, penulis tidak akan membuka tulisan kali ini dengan permohonan maaf meskipun memang frekuensi menulis akhir-akhir ini menurun drastis dikarenakan satu dan lain hal. Sebagai gantinya, penulis akan membuka tulisan kali ini dengan omong kosong sebanyak satu paragraf yang sedang anda baca yang pada intinya, tidak ada kaitannya dengan topik utama artikel ini. Hei, jangan berhenti membaca. Pembukaan tidak penting ini akan segera berakhir. Oke, silahkan beranjak ke paragraf selanjutnya.

Film, sesuai dengan wikipedia, adalah gambar hidup. Gambar bergerak yang membawa alur cerita dengan berbagai genre. Tentunya penulis tidak akan membahas definisi film lebih lanjut dengan asumsi pembaca tulisan ini mempunyai tingkat pendidikan yang cukup untuk mengetahui makna kata dari film. Sebagai seorang mahasiswa fakultas ekonomi yang terus diajarkan untuk berasumsi, penulis akan membuat satu asumsi yang hampir pasti benar bahwasanya anda, pembaca, pernah menonton film. Terlepas dari genre, kualitas, niat menonton, atau dengan siapa anda menontonnya, film tak dapat dipungkiri menjadi bagian dari hidup kita semua. Termasuk air, udara, dan Bill Gates. Oke, kecuali anda adalah Apple fanboy. Kasihan.

Berbicara mengenai sebuah film tidak lengkap apabila kita tidak menyentuh salah satu komponen terpenting di film itu sendiri. Bukan, bukan sutradara. Ayolah, penulis merupakan bagian dari organisasi musik mahasiswa terbaik di Indonesia, logikanya kita akan membahas hal-hal yang ada hubungannya dengan musik kecuali anda berada di kolom 99 Perilaku Salah Masyarakat. Benar, Soundtrack.

Soundtrack, tidak dikutip dari wikipedia melainkan dari pemikiran sok pintar penulis, adalah alunan musik ataupun lagu yang mengiringi jalannya sebuah film. Peranan Soundtrack dalam sebuah film seringkali dikesampingkan dan dianak-tirikan seperti peran Komisaris Gordon dalam memberantas kejahatan di kota Gotham. Hadirnya Soundtrack dalam sebuah film mempunyai sumbangsih besar dalam mengatur mood dan suasana penonton. Pemilihan Soundtrack yang brilian akan membuat film yang awalnya biasa menjadi luar biasa, sementara di sisi lain komposisi Soundtrack yang biasa saja hanya akan sekedar lewat selama 5 detik di bagian kredit pada akhir sebuah film. Adanya Soundtrack yang tepat akan membuat film drama terasa menggetarkan, film horror menjadi mendebarkan, film aksi terlihat lebih berotot, dan film politik… Oke, tetap membosankan.

Pada tulisan ini, penulis berniat memaparkan secara sederhana mengenai film-film yang menurut hemat penulis memiliki Soundtrack yang pantas diingat dan lebih pantas diapresiasi dari kepemimpinan Megawati. Perlu diingat dalam beberapa kalimat kedepan akan sedikit mengandung spoiler terkait film yang dibahas. Jadi bagi beberapa pembaca yang tidak merokok dan rajin beribadah, beruntunglah kalian.

Donnie Darko

Dibintangi oleh Jake Gylenhall dan Jena Malone, Donnie Darko, seperti judulnya mengangkat cerita tentang seorang remaja yang bermasalah secara psikologis bernama Donnie Darko. Diceritakan dalam film tersebut bagaimana Jake Gylenhall yang menjadi pemeran utama menjalani hidup dengan sudut pandang yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan yang menyebabkan ia menjadi seorang remaja laki laki yang “cacat” berdasarkan etika dan norma umum yang berlaku. Yang perlu dicatat dalam film ini adalah bagaimana sebuah pilihan lagu yang sangat brilian dapat mewakili isi film secara keseluruhan. Adalah Mad World yang dinyanyikan oleh seorang Gary Jules (Tears for Fear Cover) yang patut menerima status kehormatan sebagai Soundrack paling tepat dalam Donnie Darko.

A Walk to Remember

Sebagai salah satu film drama percintaan yang paling diingat sepanjang masa, A Walk to Remember, yang mengangkat nama Mandy Moore baik di industri film maupun di hati penulis sebagai gambaran istri idaman, sebenarnya membawa cerita yang terbilang sederhana. Ya, film ini tak dapat dipungkiri mengangkat skenario klasik tentang bagaimana seorang lelaki yang serampangan atau dalam bahasa hipsternya bad boy, jatuh hati ke seorang gadis polos baik hati dan taat beribadah. Ya, dunia kadang tak adil. Tapi pemilihan beberapa lagu seperti Only Hope, Cry, It’s Gonna Be Love dan Someday We’ll Know yang dibawakan oleh Mandy Moore sendiri tak ayal membuat sebagian penonton yang masih punya hati (anda tidak termasuk, Ahmad Dhani, maaf) tersenyum kecil penuh harap atau juga setidaknya meneteskan satu dua air mata.

500 Days of Summer

Menengok ulang kalimat penulis di tulisan terdahulu, sebuah lagu akan menarik jika dan hanya jika berada dalam scene yang tepat. Itu adalah filosofi dasar dari sebuah Soundtrack. 500 Days of Summer yang bercerita mengenai romansa antara Tom dan Summer yang diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana menghubungkan sebuah lagu dengan scene yang terkait. Sweet Disposition dari Temper Trap yang muncul 2 kali dalam film ini serta Vagabond dari Wolfmother yang didengungkan di masa kebangkitan Tom adalah bukti nyata ciamiknya pemilihan Soundtrack di film garapan Marc Webb ini. Masih belum puas? Regina Spektor dengan lagunya Hero di adegan Summer yang tengah memamerkan cincin pertunangannya. Tidak ada argumen lebih lanjut dari penulis.

Titanic

Jika lagu My Heart Will Go On milik seorang Celine Dion bukan hal pertama yang muncul di kepala kalian, maka ada dua kemungkinan; pertama, anda belum menonton Titanic, dan yang kedua, berbagai kemungkinan lainnya yang tidak akan saya utarakan disini karena bersifat offensif.

Empat film diatas adalah film film yang, sekali lagi, menurut preferensi dan pendapat pribadi penulis, memiliki dukungan yang mumpuni di sisi Soundtrack. Sejujurnya masih banyak daftar film yang juga memiliki Soundtrack yang patut diapresiasi, namun tidak adanya sentuhan wanita dalam kehidupan penulis belakangan ini membuat penulis secara pribadi kehilangan motivasi untuk membahas beberapa judul film lainnya. Tak hanya berbentuk lagu, Soundtrack, menurut Wikipedia, dapat pula berupa Theme Song. Berbagai film yang memiliki Theme Song yang membekas umumnya adalah film yang memiliki sekuel maupun prekuel seperti The Godfather, Pirates of Carribean, Star Wars, Harry Potter, James Bond, dan lain-lainnya terutama yang merupakan hasil garapan seorang Hans Zimmer.

Sebagai penutup, penulis menyarankan agar tidak melupakan hal hal fundamental dalam hidup seperti halnya sebuah Soundtrack dalam film. Contohnya menghemat air, selalu menghormati orang tua, membalas bbm dengan sigap, dan membenci kelompok fanatik agama. Selamat melanjutkan hidup anda, bila ingin.

Annoying Lola

Annoying Lola merupakan tokoh fiktif hasil kreasi Biro Eksternal BSO Band FEUI periode 11/12 dengan penulis. Berawal dari ide dasar dimana penulis dinilai sebagai pribadi yang annoying akibat tulisan terdahulu (99 perilaku salah masyarakat), Annoying Lola merupakan artikel lelucon yang mengisi mading BSO Band kurang lebih 2 hingga 3 kali kesempatan.

Singkat cerita, nama Annoying Lola diambil dari tokoh youtube “Annoying Orange” dan modifikasi dari nama panggilan penulis. Meski terlihat menyebalkan dan annoying, perlu dicatat bagi para pembaca wanita berparas menarik terutama yang belum berstatus, bahwasanya penulis adalah sosok menyenangkan dan ditengarai memiliki kualitas handal sebagai calon pendamping hidup.

Berikut adalah artikel Annoying Lola yang terakhir kali diterbitkan, layout merupakan hasil karya saudara Irfan Prawiradinata.

Holiday Movie List (Part 2)

5. Warrior (2011)

Warrior

Bila anda mencari film penuh adegan perkelahian pria pria berotot dan berusaha memompa kejantanan dalam diri anda, Warrior bukan pilihan yang 100 persen tepat. Disutradarai oleh Gavin O’Connor, Warrior, seperti dapat dilihat dalam artwork posternya, mengusung 2 aktor penuh testosterone ; Tom Hardy dan Joel Edgerton.
Seolah menjurus kearah action dengan drama tanggung, penulis dibuktikan salah dalam 10 menit pertama. Film yang mengangkat tentang dua bersaudara Conlon yang berkompetisi dalam ajang Mixed Martial Arts ini dengan sukses mampu membawa emosi penonton naik turun dengan unsur dramanya maupun aksi aksi dalam panggung pertandingan penuh otot dan keringat.
Latar belakang keluarga Conlon yang merupakan keluarga broken home akibat figur ayah yang pemabuk menjadi jurus utama Gavin O’Connor dalam memancing air mata penulis. Hal tersebut sangat efektif melihat performa Tom Hardy dalam memerankan sang adik, Tommy Conlon, sebagai sosok yang memiliki masa kecil kurang bahagia dan tampak ignorant meski sebenarnya memiliki alasan kuat dalam setiap langkah yang diambil. Tanpa perlu banyak penggambaran, sosok Tommy Conlon secara visual dapat memancarkan berbagai kesedihan dan kesendirian.
Hal ini semakin menjadi-jadi akibat pengaplikasian dialog yang kuat dan peran pembantu Nick Nolte sebagai sang ayah, Paddy Conlon, yang dengan apik menggambarkan seorang pria tua yang berusaha keras menjalin kembali hubungan dengan kedua anaknya. Aksi Joel Edgerton sebagai sang kakak, Brendan Conlon, juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Aktor yang bersanding dengan Mary Elizabeth Winstead dalam The Thing ini mampu memerankan sosok seorang anak yang kerap menjadi kuda hitam dan tidak pernah difavoritkan bahkan oleh sang ayah sendiri.
Berdurasi kurang lebih 140 menit, Warrior merupakan salah satu film terbaik tahun 2011 versi penulis secara pribadi. Bila anda gemar menonton film film drama yang melembutkan hati namun tetap ingin menjaga image jantan sebagai seorang alpha male, Warrior sudah seharusnya berdiri sejajar dengan Cinderella Man, The Wrestler, ataupun seri legendaris Rocky.

Holiday Movie List (Part 1)

Liburan identik dengan waktu senggang dan bersenang-senang. Konteks bersenang-senang memiliki horizon luas tergantung dari preferensi tiap individu. Bagi penulis sendiri, secara pribadi, pilihan pertama untuk mengisi waktu dengan kesenangan adalah lewat menonton film. Berikut merupakan review singkat beberapa film yang penulis tonton dalam liburan kali ini.

1.    Rear Window (1954)

Rear Window

Berangkat dari sebuah rekomendasi seorang teman, Rear Window menjadi film hitam putih pertama dan juga film tertua yang pernah penulis tonton meski pada akhirnya gelar kedua jatuh ke It’s a Wonderful Life di kemudian hari. Film garapan sineas legendaris yang melejit lewat Psycho, Alfred Hitchcock ini mengangkat cerita tentang seorang fotografer (diperankan oleh James Stewart) yang tengah cedera dan kemudian menghabiskan waktunya mengamati para tetangganya hingga akhirnya ia menemukan adanya indikasi bahwa salah seorang tetangganya merupakan seorang pembunuh.
Sekilas, film ini mengingatkan penulis akan Shia LaBeouf dengan Distubia-nya. Namun, apa yang dihadirkan oleh Rear Window ternyata sangat berbeda. Ketegangan yang dibawakan tersampaikan secara sepenuhnya, berbeda dengan film hollywood masa kini yang membawa genre serupa yang berusaha memompa adrenalin penonton dengan backsound dan teriakan berlebihan dari pemeran wanita berpakaian minim.
Hal menarik yang perlu diangkat dari Rear Window adalah suguhan Alfred Hitchcock yang menyajikan seluruh isi film dari sudut pandang apartemen sang tokoh utama. Meski memancing resiko terjadinya kebosanan akibat sudut pandang yang monoton, performa menawan James Stewart yang didampingi Grace Kelly ternyata mampu membuat penulis tidak beranjak dari depan layar.
Pada akhirnya, bagi anda yang jengah dengan film thriller/crime/mystery 10 tahun terakhir dan rindu akan film berkualitas, Rear Window patut menjadi pilihan utama.


2.    Sleuth (1972)

Sleuth

Mengutip kata kata dari Jeremiah Arthur Jenkins, seorang tokoh fiktif ciptaan kolega dekat dari penulis, “Nothing is better than the original. Unless you’re a Gleeks. Which is stupid.”. Beranjak dari kalimat tersebut, masuk akal kiranya bila berasumsi Jenkins telah menonton film yang disutradari oleh Joseph L. Mankiewicz ini.
Meski versi remake nya di tahun 2007 sempat menempati posisi spesial di hati penulis sebagai film yang patut diingat sepanjang hidup, versi original ini membuat remake yang dibintangi Jude Law dan Michael Caine terlihat seperti lelaki pecundang yang terburu-buru melakukan pendekatan.
Sleuth, menurut www.yourdictionary.com memiliki definisi “to act as a detective” yang mana menggambarkan secara garis besar film ini sendiri. Dibintangi oleh Laurence Olivier dan Michael Caine, Sleuth bercerita tentang seorang penulis novel misteri (Olivier) dan kekasih istrinya (Caine) yang beradu otak dengan permainan logika yang mengancam nyawa.
Beberapa hal outstanding yang penting dicermati adalah bagaimana film ini mengangkat hanya 2 orang pemeran dalam keseluruhan film. Tidak ada kebosanan terjadi mengingat briliannya dialog yang disuguhkan serta penampilan kedua pemeran yang mampu menghidupkan ketegangan dalam film ini. Twist mengenai akhir dari cerita juga menambah nilai plus dari Sleuth. Sebagai informasi tambahan, Michael Caine juga turut serta dalam versi remake meski berganti peran dan posisi awalnya diisi oleh Jude Law.
Pada intinya, bila anda mencari sebuah film yang memancing otak anda berpikir namun tetap memberi sesuatu yang menghibur, Sleuth sudah seharusnya menjadi pilihan anda dibanding film film penuh ledakan mobil ataupun Jason Statham dengan sumpah serapahnya.


3.    Schindler’s List (1993)

Schindler's List

Menjadi film hitam putih kedua bagi penulis, Schindler’s List sukses menggeser The Pianist sebagai film terbaik yang mampu menggambarkan kondisi WWII. Mengangkat Liam Neeson sebagai Oscar Schindler, seorang pengusaha Jerman yang memberi penampungan bagi sekelompok Yahudi dengan memperkerjakan mereka di pabriknya dalam masa WWII, film ini, sama seperti soal ujian Akuntansi Keuangan, membuat waktu 3 jam terasa begitu sebentar.
Kualitas film ini tidak perlu diragukan mengingat nama nama besar yang ada di layar maupun dibaliknya. Mendampingi Liam Neeson, dapat dijumpai Ben Kingsley serta Ralph Fiennes dimana seorang Steven Spielberg mengarahkan dari balik layar.
Akhir kata, film ini mampu mengembalikan kepercayaan anda terhadap kemanusiaan setelah berita buruk bertubi-tubi mengenai DPR, Tugu Tani, dan keputusan Arsene Wenger mengganti Alex Oxlade-Chamberlain dan juga memberi kita keharusan untuk mendoakan Liam Neeson agar tidak jatuh ke lubang yang sama yang dihuni Nicholas Cage. Amin.


4.    It’s a Wonderful Life (1946)

It's a Wonderful Life

Sukses menyandang predikat sebagai film tertua yang pernah penulis tonton, It’s a Woderful Life juga berhasil mengangkat nama James Stewart sebagai salah satu aktor favorit penulis setelah sebelumnya mencuri perhatian penulis di Rear Window.
Bercerita tentang kehidupan seorang George Bailey (Stewart), seorang pemuda baik hati yang selalu memikirkan kepentigan orang lain yang kemudian mengalami depresi sehingga Tuhan mengirimkan seorang malaikat untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan di dunia seandainya ia tidak pernah dilahirkan, film yang dibesut oleh Frank Capra ini seolah tampak seperti film keluarga pada umumnya.
Tapi stereotip tersebut hilang pada akhirnya, karena meski memang berbasiskan seperti film keluarga pada umumnya dimana selalu mengajarkan kita untuk menjadi pribadi lebih baik dan memberi harapan semu akan adanya happy ending dalam kehidupan nyata, It’s a Wonderful Life memberi kesan bahwa ia lah akar dari seluruh pola mainstream film keluarga. Jalan cerita yang simpel namun sedikit unik, sentuhan klasik, dan nilai moral yang dibawa membuat film ini wajib dilihat bersama orang orang yang anda kasihi. Atau sendirian. Terserah.